MEMAKSIMALKAN AMAL SALEH DI SEPULUH HARI PERTAMA DZULHIJJAH

Khutbah Jumat di Masjid As Salam Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran 2 Majalengka pada Jumat, 15 Mei 2026, menghadirkan suasana khas khutbah Timur Tengah karena disampaikan dalam bahasa Arab oleh Syekh Muhsin bin Umar Al Dzaibani, pengajar dan muhaffidz di PIAT 2 yang sebelumnya menjadi imam dan khatib di Masjid Al Iman, Jeddah, Saudi Arabia. Dalam khutbahnya, beliau membahas tentang keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan pentingnya memaksimalkan amal saleh pada hari-hari mulia tersebut.

Dalam khutbahnya, beliau mengajak jamaah untuk menyambut sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sebagai musim besar pahala dan kesempatan emas memperbanyak amal saleh.

Beliau membuka khutbah dengan menjelaskan bahwa bulan Dzulhijjah bukan sekadar salah satu bulan hijriyah biasa, namun termasuk dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah سبحانه وتعالى. Di dalamnya terdapat hari-hari yang memiliki keutamaan sangat besar di sisi Allah.

Secara khusus, beliau menekankan kemuliaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Allah sendiri sampai bersumpah dengannya dalam Al-Qur’an:

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Syekh Muhsin menjelaskan bahwa banyak ulama tafsir menerangkan makna “malam yang sepuluh” dalam ayat tersebut sebagai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Menurut beliau, ketika Allah bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan betapa agung dan mulianya perkara tersebut.

Beliau kemudian membawakan hadits Nabi ﷺ dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang besarnya keutamaan amal saleh di hari-hari tersebut:

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ »

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini.”

Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

« وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ »

“Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun dari keduanya.” (HR. Bukhari)

Beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya nilai amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, bahkan mengungguli banyak amalan besar di waktu lainnya.

Dalam khutbahnya, Syekh Muhsin juga mengingatkan para santri dan jamaah agar tidak kehilangan semangat ibadah meskipun sedang berada di tengah kesibukan belajar maupun persiapan ujian akhir. Menurut beliau, hari-hari mulia ini seharusnya dipenuhi dengan dzikir, tahmid, tahlil, dan takbir.

Beliau mengajak jamaah menghidupkan syiar takbir di berbagai tempat sebagaimana dicontohkan para sahabat:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Beliau juga menyampaikan bagaimana Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dahulu bertakbir di rumah, di jalan, dan di pasar hingga orang-orang di sekitarnya ikut bertakbir bersama beliau. Menurutnya, syiar seperti inilah yang dahulu menghidupkan suasana keimanan di tengah masyarakat muslim.

Selain membahas keutamaan Dzulhijjah, khutbah juga diisi dengan penjelasan tentang amal-amal yang perlu dimaksimalkan pada hari-hari tersebut.

1. Taubat Nasuha

Syekh Muhsin menegaskan bahwa musim ibadah harus diawali dengan taubat yang sungguh-sungguh. Seorang muslim perlu membersihkan dirinya dari dosa dan kembali kepada Allah sebelum memperbanyak amal-amal lainnya. Menurut beliau, hati yang bersih lebih mudah menerima hidayah dan lebih ringan dalam menjalankan ketaatan.

Beliau membawakan firman Allah سبحانه وتعالى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. At-Tahrim: 8)

Melalui ayat tersebut, beliau mengingatkan bahwa taubat bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi kesungguhan untuk meninggalkan dosa, menyesali kesalahan yang telah dilakukan, dan bertekad untuk tidak kembali mengulanginya.

2. Menjaga Shalat Fardhu dan Bersemangat di Shaf Awal

Beliau menekankan pentingnya menjaga shalat lima waktu berjamaah dan berusaha berada di shaf-shaf terdepan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا »

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga membawakan hadits qudsi:

« وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ »

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya.”
(HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut beliau menekankan bahwa ibadah wajib tetap menjadi prioritas utama sebelum seseorang memperbanyak amalan sunnah.

3. Menunaikan Ibadah Haji bagi yang Mampu

Dalam khutbahnya, beliau juga mengingatkan bahwa haji adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu, baik mampu secara harta maupun fisik. Menurut beliau, seorang muslim yang telah memiliki kemampuan tetapi tidak memiliki niat untuk menunaikan ibadah haji harus merasa takut, karena ia telah meninggalkan salah satu rukun Islam dan terjatuh dalam dosa besar.

Beliau mengingatkan bahwa meskipun antrean haji panjang, seorang muslim tetap harus memiliki niat dan kesungguhan untuk menunaikannya ketika Allah memberikan kemampuan.

4. Memperbanyak Ibadah Sunnah

Syekh Muhsin juga mengajak jamaah memperbanyak ibadah sunnah seperti shalat rawatib, tahajud, witir, dhuha, dan qabliyah subuh. Menurut beliau, shalat rawatib memiliki kedudukan besar karena menjadi penyempurna kekurangan dalam shalat wajib.

Beliau membawakan hadits Rasulullah ﷺ:

« مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ »

“Barang siapa menjaga dua belas rakaat shalat sunnah, Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Muslim)

5. Puasa Arafah

Selain shalat sunnah, Syekh Muhsin juga mengingatkan pentingnya memperbanyak puasa sunnah di bulan Dzulhijjah, terutama puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Beliau membawakan hadits Rasulullah ﷺ:

« صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ »

“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.”
(HR. Muslim)

Beliau kemudian menegaskan kepada jamaah: “Bayangkan dosa-dosa yang dilakukan selama dua tahun diampuni oleh Allah hanya dengan sebab puasa satu hari, yaitu puasa Arafah. Maka jangan sampai seorang muslim melewatkan kesempatan besar ini.”

Pada bagian berikutnya, Syekh Muhsin menjelaskan pembahasan yang cukup menarik tentang perbandingan antara sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan sepuluh malam terakhir Ramadhan. Sebagian ulama lebih mengutamakan Ramadhan, sementara sebagian lainnya lebih mengutamakan Dzulhijjah.

Namun beliau membawakan penjelasan para ulama yang menggabungkan kedua pendapat tersebut. Menurut mereka, sepuluh hari pertama Dzulhijjah lebih utama dari sisi siangnya karena di dalamnya terdapat hari Arafah, Tarwiyah, dan hari Nahr atau Idul Adha. Sedangkan sepuluh malam terakhir Ramadhan lebih utama dari sisi malamnya karena terdapat Lailatul Qadr.

Beliau kemudian membawakan hadits Rasulullah ﷺ:

« إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ »

“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah hari Nahr, kemudian hari Qarr.” (HR. Abu Dawud)

Hari Qarr adalah hari setelah Idul Adha, yaitu 11 Dzulhijjah, ketika jamaah haji menetap di Mina.

Di akhir khutbah, Syekh Muhsin membahas tentang syariat kurban dan pentingnya ibadah tersebut bagi kaum muslimin yang memiliki kelapangan rezeki.

Beliau membacakan firman Allah سبحانه وتعالى:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Beliau menjelaskan bahwa kurban bukan sekadar tradisi tahunan, namun bentuk syukur seorang hamba atas nikmat harta yang Allah berikan serta bentuk pendekatan diri kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras kepada orang yang memiliki kelapangan harta tetapi tidak berkurban:

« مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا »

“Barang siapa memiliki kelapangan harta namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah)

Menutup khutbahnya, Syekh Muhsin bin Umar Al Dzaibani mengajak seluruh jamaah untuk tidak menyia-nyiakan musim pahala yang Allah hadirkan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Beliau menegaskan bahwa hari-hari tersebut merupakan kesempatan besar bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal saleh, dzikir, sedekah, shalat, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya sebelum kesempatan itu berlalu.

Oleh: Muhamad Rifai

Tinggalkan Balasan